Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. … Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24)
Di zaman sekarang, rasanya hampir semua hal diukur dengan uang. Bahkan ada istilah “kalau uang yang bicara…, apa pun jadi!” Artinya, segalanya jadi mungkin kalau sudah pakai uang. Akan tetapi, benarkah uang selalu menang?
Saya jadi ingat ibu saya di Makassar. Beliau menyewakan kamar-kamar kos di rumah. Awalnya memang untuk menambah penghasilan dan supaya tidak kesepian setelah anak-anaknya merantau. Namun, setelah beberapa waktu, anak-anak kos itu tidak dianggap sebagai penyewa lagi, tapi sudah seperti anaknya sendiri. Begitu juga sebaliknya. Mereka menganggap ibu saya sebagai ibu mereka sendiri.
Bahkan, ada yang tetap tinggal di sana meskipun sudah tidak lagi menyewa. Kalau bicara untung-rugi secara bisnis, ibu saya jelas “rugi”. Tapi bagi Ibu, kehadiran dan kebersamaan mereka jauh lebih berharga daripada uang sewa. Di titik itu, uang tidak lagi “bicara” bagi Ibu. Kasih jauh lebih lantang suaranya.
Pelajaran dari Kasih Yesus
Cerita ini mengingatkan kita pada kisah penebusan Yesus. Waktu itu, para pemuka agama mengira mereka bisa menghentikan langkah Yesus dengan kekuatan uang. Mereka menyuap Yudas Iskariot untuk mengkhianati-Nya. Uang diterima, Yesus pun ditangkap.
Tapi, apakah uang berhasil menggagalkan rencana Tuhan? Sama sekali tidak.
Justru di atas kayu salib, kita melihat kasih Yesus membungkam kekuatan uang. Ingat, sejak awal pelayanan-Nya, Iblis sudah menawarkan segala kekayaan dunia asal Yesus mau menyerah dan menyembahnya. Tapi Yesus tidak bergeming. Bagi-Nya, menyelamatkan manusia jauh lebih penting daripada memiliki seluruh harta di bumi. Di hadapan kasih-Nya yang begitu besar, uang menjadi tak berarti.
Sahabat Webklesia, dari dua cerita ini kita belajar satu hal, yakni Uang tidak selamanya berkuasa. Uang bisa bungkam, jika kasih yang bicara dan bertindak.
Tuhan Yesus sudah menunjukkan bahwa kasih yang tulus punya kuasa yang jauh lebih dahsyat dari materi apa pun. Sampai hari ini, kuasa kasih itu masih ada dan bekerja dalam hidup kita, asalkan kita mau hidup dalam terang kasih-Nya.
Ketika kita memilih untuk mendahulukan kasih dan kepedulian di atas hitungan untung-rugi, saat itulah kita membungkam kuasa uang dan kuasa kasih Tuhan bekerja.
Refleksi: Hidup yang paling kaya bukanlah yang memiliki tabungan paling banyak, melainkan yang memiliki kasih paling besar untuk dibagikan.
