Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa. (2 Samuel 1:23)
Pernahkah Anda memuji musuh Anda? Jangankan untuk memujinya, barangkali bahkan mendengar namanya atau mengingat wajahnya pun kita sudah muak. Hati kita dipenuhi rasa benci, bahkan mungkin amarah dan dendam.
Namun tidak demikian dengan Daud. Dalam 2 Samuel 1:2-24, kita dapat membaca bagaimana berdukanya Daud ketika mendengar kabar tentang kematian Raja Saul dan Yonatan, putera Saul. Sikap Daud ini adalah sesuatu yang luar biasa. Kita mungkin dapat mengerti jika Daud berduka atas kematian Yonatan, karena Yonatan adalah sahabat karibnya.
Tapi untuk Saul? Bukankah Saul telah banyak membuatnya sengsara? Bukankah Saul yang menyebabkan Daud harus hidup bertahun-tahun dalam pelarian? Namun, alih-alih mengingat perbuatan Saul itu, Daud justru meratapi kematian Saul sebagai kematian seorang raja Israel.
Dalam ratapannya, Daud menceritakan tentang semangat Saul, kemenangan-kemenangannya, serta keberhasilan–keberhasilannya membawa kerajaan Israel pada kemakmuran.
Sahabat Webklesia, tak jarang kita begitu tenggelam di dalam keburukan orang yang pernah bersalah kepada kita, sehingga kita tak lagi dapat melihat kebaikan-kebaikannya. Namun hari ini, mari kita belajar dari Daud. Bagaimanakah sikap kita selama ini terhadap orang yang telah melukai hati kita? Seberapa seringkah kita memikirkan dan menghakimi kelemahan musuh kita? Bahkan, ketika seorang kawan melihat kebaikan dari orang yang telah menyakiti kita, tidakkah justru kita jadi membenci kawan kita itu?
Seperti Daud, mari kita lebih memusatkan perhatian pada sifat-sifat positif dari musuh kita, atau orang-orang yang kita benci. Memang itu tidak mudah. Tetapi melihat hal terbaik dari diri musuh kita, dapat mengubah kebencian menjadi kasih.
Doa: Ya Tuhan, lembutkanlah hati kami sehingga kami mampu mengasihi musuh kami, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan. Amin.
