Orang tentu tidak suka dibohongi, tetapi tidak jarang, mendengar kebenaran justru membuatnya marah. Kebenaran itu memang tidak selalu menyenangkan, terkadang malah amat menyakitkan.
Sekarang ini hubungan saya dengan seorang teman sedang renggang. Pasalnya, selama ini dia selalu menanyakan apa pendapat orang-orang tentang dirinya. Pada mulanya saya tidak mengatakan yang sebenarnya, saya mengatakan hal yang baik-baik saja, karena saya tidak mau membuatnya merasa terganggu. Atau saya hanya menjawab yang gampang: “tidak tahu”. Tetapi kemudian setelah kami semakin akrab, rasanya ada perasaan bersalah di hati saya bila terus-menerus bersikap seperti itu. Saya pikir, bila tidak mengatakan bahwa ada beberapa hal dari sikapnya yang tidak disukai orang dari dirinya, maka dia tidak akan tahu kesalahan dan kekurangannya. Dan bila dia tak tahu kesalahan dan kekurangannya, bagaimana ia bisa memperbaiki diri? Jadi bila tidak berterus-terang, maka itu berarti saya telah membiarkan dia tetap buruk di mata orang-orang. Maka ketika kemudian dia bertanya lagi, saya pun mengatakan yang sebenarnya. Eeh, tak saya duga, ternyata dia marah dan menuduh saya sama saja dengan mereka.
Hari itu saya teringat bahwa banyak orang yang memang ingin tahu apa pendapat orang lain tentang dirinya, tetapi hanya ingin mendengar yang baik-baik dan menyenangkan saja. Sebetulnya kita tidak suka mendengar apa yang buruk walau itu adalah sebuah kebenaran. Jika kebenaran adalah buruk, kita lebih suka dibohongi. Kita lebih suka jawaban yang menghibur daripada yang jujur.
Sahabat Webklesia, melalui peristiwa dengan teman saya ini, saya mengingat betapa memang tidak mudah untuk menyatakan kebenaran itu. Kebenaran itu menyakitkan. Untuk menyatakan kebenaran itu butuh kekuatan hati akan resiko-resikonya. Barangkali memang kita harus kehilangan teman, sahabat, saudara, atau juga harta demi kebenaran, tetapi bukankah itulah “salib” yang harus kita pikul?
Refleksi: Kebenaran itu memang menyakitkan. Namun, lebih yang menyakitkan lagi adalah penyesalan ketika kita harus menerima kebenaran itu ketika semuanya sudah terlambat.
