Kenyataan Pahit Ketika Putri Salju Dewasa
Kenyataan Pahit Ketika Kita semua pasti tahu kisah Putri Salju, cerita klasik yang bahkan tetap populer di negeri tropis seperti Indonesia ini. Fokus cerita ini sebenarnya bukan cuma soal nenek sihir dan apel beracun, tapi soal seorang ratu, Ibu Tiri Putri Salju, yang terlalu sibuk memuja bayangannya sendiri di depan cermin ajaib.
Sang Ibu Tiri setiap hari, bercermin dan menanyakan pertanyaan yang sama: “Cermin… cermin.. Cermin Ajaib… Siapa yang paling cantik di negeri ini?” Dan setiap hari pula, cermin itu memberikan jawaban yang sama: “Tentu saja Anda, Bunda Ratu!”
Namun, tanpa disadari sang Ratu, Putri Salju telah tumbuh dewasa menjadi gadis cantik jelita.
Suatu pagi, jawaban cermin itu berubah: “Ratu memang cantik, tapi Putri Salju jauh lebih cantik.”
Sang Bunda Ratu syok. Rasa iri seketika memenuhi hatinya. Selam ini ia begitu terpaku pada kecantikannya sendiri, sampai-sampai ia “abai” melihat perubahan besar yang terjadi tepat di depan matanya. Lalu ia mencoba mencelakai Putri Salju.
Namun akhir ceritanya kita tahu: sang Putri hidup bahagia, sementara sang Ratu harus menanggung akibat dari kebenciannya.
Sahabat Webklesia, pernahkah kita merasa seperti sang Ratu? Bukan soal merasa paling cantik, tapi soal terlalu sibuk dengan diri sendiri.
Kadang, rutinitas dan sifat narsis membuat pandangan kita menyempit. Kita begitu fokus pada diri sendiri, pekerjaan, atau masalah pribadi, hingga kita tidak sadar bahwa dunia di sekitar kita sudah berubah total.
- Mungkin kita tidak sadar anak-anak kita sudah tumbuh besar dan mulai menjauh.
- Mungkin kita tidak sadar sahabat kita telah menjadi asing.
- Mungkin kita tidak sadar lingkungan sekitar kita sudah “tidak hidup”.
Jangan sampai kita baru tersadar saat semuanya sudah terlambat atau saat keadaan sudah tidak lagi sama.
Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk benar-benar melihat. Perhatikan wajah-wajah yang kita temui setiap hari, dengarkan cerita mereka, atau sekadar nikmati pohon-pohon yang kita lewati saat berangkat kerja. Jangan sampai karena ketidakpedulian, hubungan di sekitar kita menjadi kering dan mati.
Refleksi: Jangan sampai kita terlalu asyik menatap “cermin” diri sendiri, sementara dunia luar sudah berubah dan melangkah jauh meninggalkan kita.
