Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, … (TB2 Roma 12:2a)
Melawan arus lingkungan itu memang tidak mudah. Jauh lebih gampang untuk ikut-ikutan saja daripada harus tampil beda. Itulah sebabnya banyak orang akhirnya “tercetak” menjadi apa yang diinginkan lingkungan, sampai merasa tidak punya kekuatan untuk menolaknya.
Pernah dengar tentang jenis hiu tertentu yang ukurannya ditentukan oleh tempat tinggalnya? Kalau bayi hiu ditaruh di akuarium kecil, ia akan tetap kecil sampai dewasa, ukurannya akan menyesuaikan dengan ukuran akuarium itu. Tapi, kalau hiu yang sama dilepaskan ke samudera luas, ia akan tumbuh besar, sama seperti ikan hiu lainnya yang hidup di samudera.
Singkatnya: kalau lingkungannya sempit, dia jadi kerdil. Kalau lingkungannya luas, dia jadi besar.
Apakah Kita Mau Seperti Ikan Hiu Itu?
Pertanyaannya: apakah pertumbuhan kita sebagai anak Tuhan juga harus “didikte”, “dicetak”, atau “dibentuk-bentuk” oleh lingkungan kita?
Kalau lingkungan kita isinya orang-orang berpikiran sempit, apakah kita pun harus ikut-ikutan berpikiran sempit?
Jika orang-orang di sekitar kita berjiwa kerdi, apakah kita pun mau ikut berjiwa kerdil?
Dan apakah kita harus menunggu lingkungan kita jadi luas dan bebas dulu baru kita mau berkembang?
Tentu tidak! Kita sudah dikaruniai akal budi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Kita punya pilihan untuk tidak mau sekadar “dicetak” oleh keadaan sekitar.
Pilih “Tangan” yang Tepat
Ingatlah satu hal: Jika kita tidak mengizinkan Tuhan membentuk kita, maka dunialah yang akan melakukannya. Padahal, hanya apa yang dibentuk oleh tangan Tuhanlah yang benar-benar berharga.
Dan apa yang dibentuk oleh tangan Tuhan yang menjadi milik-Nya.
Sahabat Webklesia, sekarang pilihannya ada di tangan Anda. Kepada siapakah Anda menyerahkan diri untuk dibentuk dan diubahkan? Kepada lingkungan yang sempit, ataukah kepada Tuhan yang memiliki rencana luas tak terbatas bagi hidup Anda?
Doa: Tuhan, bentuklah hati kami agar tidak serupa dengan dunia, melainkan bertumbuh sesuai rencana-Mu yang mulia. Ajar kami setia mengikuti pimpinan Roh-Mu, supaya hidup kami menjadi pancaran kasih-Mu bagi sesama. Amin.
