Ada seseorang yang seringkali melintasi sebuah kota tua yang terbengkalai. Kota itu dulunya terbangun di dekat pertambangan emas. Ketika emas di situ sudah habis, tidak ada lagi alasan orang-orang untuk tinggal di situ. Mereka sudah mengambil apa yang mereka perlukan, lalu mereka pun pergi. Kota itu menjadi seperti kota hantu. Kosong dan terbengkalai.
Suatu hari orang itu berjalan terus ke arah hutan. Di hutan itu ia melihat ada pohon-pohon yang rebah. Pohon yang rebah membuka ruang di antara pepohonan, sehingga sinar matahari menerobos ke tanah. Batang pohon yang rebah itu akan menjadi rapuh, namun terbuka sebagai tempat banyak macam tumbuhan dan serangga untuk hidup.
Dari kedua tempat itu, orang itu belajar bahwa usia senja kita tergantung pada bagaimana kita menjalani hidup. Kita bisa berakhir bagaikan kota yang terbengkalai, ataukah bagaikan pohon yang terus memberi manfaat bagi kehidupan yang lain, bahkan walaupun ia telah rebah.
Sahabat Webklesia, apakah gunanya kita berumur panjang, jika kita bagaikan kota yang terbengkalai itu? Amsal menyatakan, karena akulah (Hikmat), umurmu diperpanjang dan tahun-tahun hidupmu ditambah. Orang yang hidup dengan hikmat, bagaikan pohon yang rebah itu. Ia terus hidup di dalam kehidupan yang lainnya.
Sebab, karena aku umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah. (Amsal 9:11)
DOA: Bapa di Surga, berilah kami hikmat dalam menjalani kehidupan kami. Sehingga hari-hari dan tahun-tahun kehidupan kami tidak berlalu begitu saja, melainkan kami tetap selalu menjadi berkat bagi sesama. Amin.
