Seorang pria mengetuk pintu rumah sahabatnya untuk meminta bantuan: “Pinjamkanlah saya uang empat ribu dinar,” Bisiknya pelan. “Saya punya hutang yang harus dibayar. Bisakah kamu melakukannya untukku?”
Mendengar itu, sang sahabat meminta istrinya mengumpulkan semua yang mereka miliki, tetapi itu pun tidak cukup. Mereka harus pergi meminjam uang dari para tetangga sampai mereka berhasil mendapatkan jumlah itu.
Ketika pria itu pergi, sang istri mendapati suaminya menangis. “Mengapa kamu sedih? Apakah karena sekarang kita yang berhutang kepada tetangga, dan kau kuatir kita tidak dapat membayar mereka?” “Tidak. Bukan itu!” Ucapnya sedih.
“Aku menangis karena dia adalah seseorang yang sangat kukasihi, tapi meski begitu aku tidak tahu bahwa dia sedang butuh pertolongan.” Lalu dengan pedih ia menambahkan, “Tak bisa kulupakan wajahnya, ketika dia harus mengetuk pintuku untuk meminta pinjaman.”
Sahabat Webklesia, banyak orang yang tidak bisa – sama sekali tidak bisa – meminta bantuan. Bukan hal gampang buat mereka untuk mengetuk pintu demi meminta pinjaman, apalagi terhadap sahabatnya. Sehingga apabila itu mereka lakukan, artinya mereka benar-benar membutuhkan bantuan.
Dan ini bukan tentang uang saja. Banyak orang yang tersiksa oleh kesepian, yang lebih buruk daripada kelaparan. Namun mereka tidak mau merepotkan sahabatnya sendiri. Mereka membutuhkan kehadiran kita, kepedulian kita.
Perhatikanlah orang-orang di sekitar kita. Bukalah pintu dan hati kita. Berikanlah bantuan bahkan sebelum diminta.
Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. (Luk. 8:44)
DOA: Bapa di Surga, berilah kami hati yang dapat memahami kebutuhan dan kesusahan orang-orang di sekitar kami. Dan supaya kami dapat membantu dengan penuh kasih. Amin.
