MENGAPA KITA TIDAK BAHAGIA?

Ada seorang wanita hidup sederhana di sebuah desa. Ia mempunyai sehelai mantel tua kesayangan. Suatu hari ia keluar rumah dan seorang tetangga menunjuk ke mantelnya dan berkata, “Hei, ada lubang kecil di mantelmu.“ Sikap tetangganya itu membuatnya merasa risih, seakan dengan adanya lubang itu, berarti ada sesuatu yang salah pada dirinya. Lalu ia mencari tahu penyebabnya. 

Di kemudian hari ia menemukan bahwa ada tikus kecil di rumahnya. Lalu ia pergi kepada kucing, meminta kucing itu membunuh tikus itu. Setelah membunuh tikus itu, si kucing lalu kelaparan. Jadi wanita itu mencarikannya susu. Untuk mendapatkan susu, ia pergi kepada sapi. Sapi mempersilahkan dia memerah susunya, tetapi si sapi tidak pernah bisa tinggal diam. Lalu ia minta seorang anak laki-laki menolongnya memerah susu dari sapi itu. Si anak laki-laki butuh makanan dan uang. Untuk membiayai anak itu, ia harus pergi ke kota dan mencari pekerjaan. Lama-lama, si wanita itu berpikir, “Mungkin sebenarnya saya lebih bahagia dengan lubang di mantelku itu.”

Sahabat Webklesia, apakah yang membuat kita tidak bahagia di masa tua kita? Karena kita tidak mempunyai ini dan itu? Karena kita tidak begini dan begitu? Seringkali apa yang membuat kita tidak bahagia sebenarnya adalah ukuran-ukuran orang lain saja. Mungkin sesungguhnya kita bahagia-bahagia saja walau tanpa semua itu. Seringkali apa yang Tuhan beri cukup saja buat kita, sampai seseorang menilainya kurang.

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. (Mat. 5:3)

DOA: Bapa di Surga, ajarlah kami mengerti tentang apa yang terpenting di dalam kehidupan ini, sehingga kami bisa hidup dalam damai sejahtera dengan berkat-berkat-Mu dan tetap beriman kepada-Mu. Amin. 

Scroll to Top