Iman, Susu dan Makanan Keras dalam Alkitab

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari perkataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab setiap orang yang terus minum susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang memiliki indra yang terlatih untuk membedakan yang baik dan yang jahat. (Ibrani 5:12-14)

Ada motto berbunyi: Bigger, Higher, Better. Motto ini mengajak kita, sebagai makhluk hidup, untuk terus bertumbuh menjadi lebih besar, lebih tinggi, dan lebih baik. Pertumbuhan ini bukan hanya soal tubuh jasmani, pikiran, dan mental, tetapi yang terutama adalah pertumbuhan iman.

Cobalah sejenak mengukur: bagaimana perkembangan iman Anda sekarang dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu, atau sejak Anda menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi?
Seperti tubuh dan pikiran kita yang seharusnya berkembang dari anak-anak menjadi dewasa, demikian juga iman kita. Iman seharusnya makin hari makin besar, makin tinggi, dan makin baik. Bukan sekadar ada; Bukan sekedar hidup seadanya, tetapi tetap kerdil dan lemah.

Dalam kitab Ibrani disebutkan tentang orang-orang yang, dari segi waktu, seharusnya sudah dewasa dalam iman. Namun kenyataannya, iman mereka tidak bertumbuh. Mereka masih seperti anak-anak yang membutuhkan susu dan belum mampu menerima makanan keras.
Artinya, mereka hanya mau menerima firman yang mudah, ringan, dan menyenangkan. Sementara firman yang menuntut pemahaman akan kebenaran, tanggung jawab, serta kemampuan membedakan yang baik dan yang jahat, justru mereka hindari.

Orang seperti ini, kata Paulus, secara usia mungkin sudah dewasa, tetapi sikapnya masih seperti kanak-kanak. Mereka hanya menunggu dan menerima apa yang disuapkan, tanpa usaha untuk mencari dan mengunyah sendiri makanan rohani yang menguatkan iman. Mereka cenderung menolak penderitaan dan cobaan, dan lebih suka dibujuk, dipuji, dibela, diperhatikan, dan dilayani.

Padahal, justru melalui penderitaan, cobaan, tantangan, dan kesulitan hiduplah iman ditempa menjadi dewasa. Perjuangan imanlah yang membuat iman kita bertumbuh menjadi lebih besar, lebih tinggi, dan lebih teguh.

Sahabat Webklesia, jika kita begitu peduli pada pertumbuhan jasmani dan pengetahuan, maka pertumbuhan iman dan spiritual pun tidak boleh diabaikan. Jangan sampai tubuh kita besar dan kuat, tetapi iman kita tetap kerdil.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk terus bertumbuh dalam iman, bukan hanya dalam hal jasmani dan pengetahuan, tetapi semakin dewasa, kuat, dan teguh di dalam-Mu.
Mampukan kami melewati setiap tantangan dan proses kehidupan dengan setia, agar iman kami semakin besar, lebih tinggi, dan lebih baik setiap hari. Amin.

Scroll to Top