Sepatu Baru dan Sepatu Tua

Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna. (TB2 Roma 12:2)

Manakah yang Anda lebih senang pakai, sepatu baru ataukah sepatu tua? Kalau pengalaman saya, walau mungkin sepatu baru tampak lebih bagus, tetapi saya lebih suka memakai sepatu tua. Apalagi kalau harus berjalan jauh. Apalagi kalau jalan yang sulit dan berbatu-batu. Jangan coba-coba pakai sepatu baru! Sepatu baru itu akan membuat kaki kita lecet dan sangat menyiksa!

Mengapa sepatu tua terasa lebih nyaman? Jelas, karena kulitnya sudah lembut, dan kaki kita pun sudah terbiasa dengannya.

Sepatu tua dapat menjadi simbol akan kebiasaan-kebiasaan, cara berpikir, atau lingkungan yang telah lama kita hidupi. Walaupun mungkin keadaannya sulit, tetapi bagaimanapun, kita telah merasa nyaman, karena sudah kita kenal dan kita sudah terbiasa. Sedangkan yang baru, seringkali terasa mengancam dan tidak nyaman, bahkan sebelum kita mencobanya. 

Namun seperti sepatu tua yang pada waktunya akan rusak dan perlu diganti, demikian pula hal-hal lama dalam hidup kita. Jika kita terus bertahan hanya karena kenyamanan, maka cepat atau lambat kita menjadi usang dan tertinggal. Tantangannya adalah kepekaan untuk mengenali kapan sesuatu sudah waktunya diganti.

Sahabat Webklesia, memang tidak mudah untuk menyatakan sesuatu telah usang dan harus diganti, bila semua orang di sekitar kita sudah sepakat dan menganggap itu hal yang baik dan benar. Lebih mudah untuk ikut saja apa kata orang banyak. Namun, pedoman kita adalah firman Allah. Bila kita rajin membaca dan merenungkan firman Tuhan, percayalah, akal budi kita akan dibaharuinya. Sehingga kita pun akan tahu mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Refleksi: Janganlah bertahan pada “sepatu tua” hanya karena takut akan ketidaknyamanan perubahan.

Scroll to Top