Doa Orang Kristen untuk Siapa?

Ada kisah tentang seorang rahib. Ia baru saja selesai berdoa seharian di kapel dan dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan sepasang harimau. Ketika itu hari sudah gelap. Tak ada seorang pun di sana. Dengan perasaan takut luar biasa, dilemparkannyalah kandilnya kepada sang raja hutan itu. Maksudnya untuk menakut-nakuti, tetapi binatang buas itu terus melangkah ke arah sang rahib. Kemudian rahib itu melemparinya dengan tasbihnya, namun harimau itu tetap tak bergeming. Sang rahib merogoh sakunya mencari-cari apa lagi yang bisa dipakainya untuk melempari harimau itu. Tangannya meraba sebuah buku doa yang selalu dibawanya di dalam saku. Dengan putus asa, dilemparinya harimau itu dengan buku doanya. Buku doa itu pun terjatuh tepat di hadapan si harimau dan lembaran-lembarannya terbuka lebar. Anehnya, setelah melihat dengan cermat buku doa itu, si harimau lari tunggang-langgang. Diikuti betina pasangannya. Setelah cukup jauh, ia pun berhenti. Betina pasangannya bertanya, “Mengapa engkau lari ketakutan seperti?” Jawab si jantan, “Huh! Ternyata buku doa itu berisi se-abreg permohonan, aku tak mungkin memenuhinya. Karena itu aku lari.”

Sahabat Webklesia, pernahkah kita membayangkan bagaimana reaksi Tuhan setiap kali mendengar doa-doa kita yang melulu hanya berisi permohonan ini dan itu setiap hari? Harimau itu tentu tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Tetapi cerita tentang harimau itu mungkin dapat menjadi kritikan bagi kita yang berperilaku egois dalam doa-doa kita. Tak dapat disangkal, sebagian besar doa kita hanya berisi permintaan-permintaan dan itu terutama demi kepentingan diri kita sendiri. 

Padahal dalam ‘Doa Bapa Kami’ Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa doa haruslah memuliakan Allah. Kalaupun berisi permohonan, bukanlah terutama untuk kepentingan diri sendiri, melainkan demi kemuliaan Allah dan demi terwujudnya kehendak Allah Bapa, baik di surga maupun di bumi.

Nah, coba kita ingat-ingat kembali, untuk siapakah doa-doa kita selama ini?

Refleksi: Berdoa adalah bagaikan percakapan kita dengan Tuhan. Hendaknya tidak hanya kita yang ingin berbicara dan didengarkan, melainkan juga kita memberi telinga untuk mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki.

Scroll to Top