Ketika anaknya itu jatuh sakit, Daud sangat terpukul. Ia berpuasa, menangis, dan semalaman berbaring di tanah, memohon agar Tuhan berbelaskasihan dan menyembuhkan anaknya itu.
Daud sadar bahwa penderitaan anak itu, adalah karena akibat perbuatannya. Ketika Nabi Natan mengecam dosanya dengan Batsyeba, ia diberitahu bahwa ia tidak akan mati, tetapi anak yang lahir dari hubungan itu yang akan mati.
Ketika melihat anak itu menderita, Daud memohon agar Tuhan membatalkan perkataan-Nya. Ia berdoa, berpuasa dan bersujud siang dan malam. Berharap keajaiban. Berharap Tuhan melihat penyesalannya. Barangkali bahkan menawarkan agar biar dirinya saja yang mati, jangan anaknya itu.
Para tua-tua istana telah berusaha membujuk dan menghiburnya, setidaknya agar ia mau bangun dan makan. Tetapi Daud menolak.
Setelah tujuh hari, anak itu akhirnya meninggal dunia. Tidak ada yang berani memberitahu raja Daud. Sebab mereka melihat betapa hancurnya ia selama anak itu sakit. Bayangkan, apa yang akan dia lakukan ketika anak itu mati? Jangan-jangan ia mencelakakan dirinya.
Tetapi ketika Daud tahu anak itu sudah mati, ia melakukan sesuatu yang di luar dugaan: Ia bangkit, mandi, mengganti pakaiannya, dan masuk ke dalam rumah Tuhan untuk beribadah. Kemudian ia pulang dan minta dihidangkan makanan. Lalu ia makan.
Orang-orang bingung. Mengapa Daud berhenti bersedih justru ketika anak itu mati? Daud menjawab:
“Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: Siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi, sekarang ia sudah meninggal, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, sedangkan ia tidak akan kembali kepadaku.” (2 Samuel 12:22–23)
Makna buat kita:
- Melalui kisah Daud ini, kita belajar bahwa ada titik di mana kita harus berhenti. Berjuang itu penting selama “pintu itu masih terbuka”. Ketika sudah tertutup, ya sudahlah.
- Daud menunjukkan bahwa ia memohon selama masih ada harapan, tetapi setelah Tuhan menetapkan keputusan-Nya, ia menerima kenyataan dengan tenang.
- Ketika doa permohonan kita dijawan dengan cara yang tidak sesuai harapan, kita hendaknya rela menerimanya dan melanjutkan hidup dengan tetap percaya akan kebaikan Tuhan.
Refleksi: Ada banyak beban penderitaan hidup yang bisa kita hadapi dengan mengingat pelajaran dari kisah Daud ini.
