Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan kurban sembelihan; Aku menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada kurban bakaran. (Hosea 6:6)
Adrian tidak habis pikir ketika Rima, istrinya mengeluh, bahwa Adrian tidak mencintainya. Padahal, Adrian merasa ia sudah memberikan segalanya. Ia memberikan hadiah cincin, rumah, mobil dan semua yang diminta istrinya. Tetapi mengapa Rima masih merasa tidak dicintai? Ternyata, itu karena Rima kadang-kadang ingin menikmati kebersamaan dengan Adrian, tetapi Adrian tidak pernah meluangkan waktu. Adrian barangkali memang telah memberi segalanya, tetapi tidak dirinya, tidak kehadirannya. Padahal, justru itulah yang sangat berarti bagi Rima. Namun, justru itu pulalah yang memang paling susah dia berikan.
Begitulah pula dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Umat Tuhan juga pernah mengira sudah memberi segalanya, ketika mereka memberi banyak persembahan. Mereka merasa telah mengasihi Tuhan, ketika mereka mengadakan perayaan keagamaan dengan meriah. Namun apa kata Tuhan? Semua itu tiada artinya, apabila engkau tidak memberi dirimu, hidupmu. Tuhan tidak ingin orang memberi segalanya tetapi tidak dirinya. Yang Tuhan inginkan ialah umat-Nya memberi diri, mengasihi Tuhan dan memberikan hidupnya hanya bagi Tuhan.
Sahabat Webklesia, melalui pengorbanan Yesus Kristus, Tuhan sendiri telah memberi diri-Nya untuk kita. Karena kasih-Nya kepada kita, Tuhan telah memberi diri-Nya hingga akhir, hingga Ia mati di salib. Itulah kasih yang sesungguhnya, yakni kasih yang memberi diri, memberi waktu, memberi hidup. Bukan yang sekedar memberi hadiah-hadiah terindah.
Refleksi: Tuhan telah memberi diri-Nya sebagai hadiah terindah bagi kita, apakah yang kita akan beri sebagai hadiah terindah bagi Tuhan?
