Komentar Yang Menghancurkan Kasih

sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” (Luk. 10:40)

Sekar Ayu senang sejak Ibu Rima ada. Ibu mertuanya itu selalu bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan dan membantunya mengurus anak-anak. Sekar Ayu dan suaminya berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Hingga suatu hari, Sekar Ayu mendengar dari tetangganya bahwa ibu Rima mengeluhkan dirinya. Bahwa ia tidak menjalankan tugasnya sebagai ibu dan menganggap Ibu Rima sebagai pembantu. Mendengar itu Sekar Ayu merasa sangat kecewa. Selama ini ia merasa sangat tertolong dengan kehadiran ibu Rima, sehingga ia tidak terlalu kelelahan mengurus urusan rumah tangga. Keluhan Ibu Rima itu telah menghancurkan perasaan Sekar Ayu. Sebelumnya, ia mengira ibu mertuanya melakukan semua itu karena kasih sayangnya kepada anak dan cucunya.

Sahabat Webklesia, waspadalah dengan keluh kesah. Pekerjaan Marta baik adanya, sampai ia mengeluhkan Maria; pekerjaan Ibu Rima sangat mulia, sampai ia mengeluhkan menantunya. Keluh kesah kita mungkin hanya ungkapan kelelahan kita, namun jangan sampai hal itu membuat kasih kita terdengar tidak tulus. Bukan pekerjaan yang dipilih Marta yang dicela Tuhan, melainkan sikap hatinya. Apapun yang kita kerjakan, hendaknya kita kerjakan dengan sepenuh hati, seperti untuk Tuhan.  

DOA: Bapa di Surga, ampunilah kami apabila kami seringkali berkeluh-kesah. Tolonglah kami untuk melakukan apa pun juga dengan tulus hati dan bukan karena merasa terpaksa. Supaya kasih kami menjadi kasih yang tulus dan murni. Amin.

 

Scroll to Top