Di Kaisarea ada seorang laki-laki yang bernama Kornelius, seorang perwira dari batalion Italia. Ia saleh, ia beserta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, ia melihat dengan jelas seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya, “Kornelius!” Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata, “Ada apa, Tuan?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.” (Kis. 10:1-4).
Ada orang-orang yang menjadikan hobinya sebagai pekerjaannya. Mereka tidak tampak bekerja. Mereka dapat sepanjang waktu bersenang-senang dengan hobinya, dan bahkan ada yang dibayar mahal untuk itu. Sementara kebanyakan orang harus mengeluarkan uang dan menyisihkan waktu di antara waktu kerjanya untuk bersenang-senang dengan hobinya.
Soal hobi itu serupa dengan soal berdoa. Ada orang yang menjadikan berdoa sebagai hanya satu kegiatan dalam aktivitas hidupnya. Dan ada orang yang menjadikan berdoa sebagai pusat kehidupannya. Apakah orang yang menjadikan berdoa sebagao pusat kehidupannya artinya ia akan berdoa berdoa saja dan tidak melakukan apa-apa yang lain? Tentu tidak.
Menjadikan berdoa hanya sebagai salah satu kegiatan, dapat digambarkan sama seperti misalnya orang yang menjadikan menonton film sebagai salah satu hobinya di antara hobi-hobinya yang lain. Sedangkan menjadikan berdoa sebagai pusat kehidupan adalah bagaikan orang yang menyenangi dunia perfilman, lalu ia memutuskan untuk terjun total dalam dunia perfilman itu. Ia tidak perlu khawatir bila menghabiskan seluruh waktunya untuk film – karena seluruh hidupnya adalah untuk film, dan film adalah hidupnya.
Kornelius adalah seorang tentara Italia. Artinya, ia pun punya pekerjaan dan kesibukan sehari-hari. Namun, semua itu ia kerjakan sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah.
Dari sekilas gambaran tentang kehidupannya, tersirat bahwa seluruh kehidupan Kornelius itu berpusat pada Allah. Kesalehannya tersirat dalam kehidupan doanya, juga dalam sedekahnya (kepedulian kepada orang miskin) dan perlakuan serta teladannya bagi bawahan-bawahannya.
Doanya dan kepeduliannya kepada orang lain melukiskan bagaimana hubungannya dengan Allah.
Sahabat Webklesia, berdoa itu bukan sekedar satu kegiatan dari kegiatan-kegiatan lainnya. Berdoa sesungguhnya adalah pusat kehidupan kita. Bahkan hidup kita sesungguhnya adalah ungkapan doa kita.
DOA: Bapa di Surga, ajarlah kami menjadikan berdoa sebagai pusat kehidupan kami; agar kami tidak sekedar mengucapkan doa dengan kata-kata, melainkan terungkap doa kami dengan seluruh kehidupan kami. Amin.
