Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya. (Matius 3:16)
“Iya, saya memang orang yang keras. Bicara saya kasar. Sudah dari sononya saya begini. Maklumi saja. Tidak usah mengharapkan saya berubah!” Begitu Opa Herman berujar, ketika Oma Lenny menegur sikapnya yang kurang berkenan dalam pertemuan jemaat. Mungkin ucapan Opa Herman itu tidak asing lagi bagi Anda juga kan? Ada banyak orang yang suka mengucapkan kata-kata serupa. Orang ingin dimaklumi saja atas sifat-sifat buruknya. Padahal, apakah benar seseorang tidak mungkin lagi berubah? Bukankah bahkan batu, yang ditetesi air setiap hari, setetes demi setetes, secara terus-menerus, bisa berubah? Apakah lagi kita manusia. Semua orang bisa berubah. Itulah pentingnya kita belajar Firman Tuhan, yakni agar kita bertobat dari kehidupan kita yang lama, dan lalu menjadi manusia yang berkenan kepada Allah dan sesama manusia.
Sahabat Webklesia, apa gunanya kita menjadi orang percaya, jika tidak ada yang berubah dalam kehidupan kita? Ketika Yesus dibaptis, dan langit terbuka, ini merupakan sebuah Epifani, yakni penyingkapan, pernyataan Allah kepada manusia tentang siapa Yesus itu. Yohanes adalah orang yang berseru-seru memanggil orang bertobat; sedangkan Yesus adalah Dia Yang kepada-Nya Roh Kudus tinggal. Artinya, Yesus bekerja dengan Roh Kudus, mengubahkan kita menjadi manusia baru.
Dan menjadi manusia baru itu bukan saja ketika kita sudah mati dan masuk surga, melainkan juga sekarang, saat ini, kita bisa diubahkan menjadi karakter dan sifat-sifat manusia yang baru.
DOA: Ya Tuhan, ajarlah kami pun menyatakan kemuliaan Yesus Kristus sebagai Tuhan kami, melalui sikap dan perbuatan-perbuatan kami di dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
