… bahwa Akulah TUHAN, yang membangun kembali apa yang sudah hancur dan menanami kembali yang terlantar. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan melakukannya. (Yehezkiel 36:36)
“Yah…, apa boleh dikata, nasi sudah menjadi bubur.” Begitu ucap Opa Herman pelan, lalu ia menutup telepon. Perlahan ia duduk, lalu menangis dengan membenamkan wajahnya di telapak tangannya. “Apa yang terjadi?” Bisik orang-orang. Tidak ada yang tahu. Yang jelas, itu pastilah sesuatu yang sangat disesalinya. Oma Tika hanya bisa mengusap-usap pundak Opa Herman, berusaha menghiburnya. Apa pun yang terjadi, kuncinya ada di ucapannya itu: “nasi sudah menjadi bubur”. Ini adalah ungkapan yang menggambarkan sesuatu yang sudah terlanjur, sudah rusak, tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Keadaan seperti itu memang membuat kita mungkin meratap dan memukul-mukul diri dalam penyesalan.
Sahabat Webklesia, dalam sepanjang usia kita ini, mungkin kita sudah mengalami banyak kali situasi “nasi sudah menjadi bubur”. Namun, ada satu hal yang mungkin banyak orang lupakan, yaitu bubur memang tidak mungkin dibalikkan menjadi nasi, tetapi kan bisa dijadikan bubur ayam yang enak? Apa yang kita ratapi karena sudah terlanjur terjadi, mungkin mustahil dibalikkan seperti semula, tapi bukan berarti tidak bisa diapa-apakan lagi, kan? Tuhan, Allah kita adalah Maha Kuasa dan juga Maha Kasih. Berpeganglah pada kasih-Nya, dan serahkanlah saja pada kuasa-Nya. Ia akan membarui hidupmu dan membangun kembali apa yang sudah hancur.
DOA: Ya Tuhan, Engkaulah satu-satunya sumber pengharapan kami. Hanya kepada-Mu kami menyerahkan segala kepedihan dan penyesalan-penyesalan kami yang tak terucapkan. Tolonglah kami. Amin.
