Ketika Hidup Terasa Berat, Kita Harus Apa?

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Ucapkanlah syukur dalam segala hal. (1 Tesalonika 5:16-17)

Oma Lenny mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Regina, putrinya bercerita tentang sulitnya ia menangani Jessica, putri Regina. Jessica sekarang sudah beranjak remaja dan tidak semanis ketika ia masih balita.

“Semua yang aku perintahkan dan ajarkan kepadanya selalu dia bantah!” Begitu keluh Regina.

Oma Lenny mendengarnya seraya manggut-manggut. Regina terus bicara dan menumpahkan isi hatinya. Sampai ia puas dan habis kata-katanya. Regina memandang ke ibunya itu, menunggu komentar. Lama mereka berdua terdiam. Hening. Sampai kemudian mereka berdua pecah dalam tawa. Pasalnya, pikiran mereka sama. Mereka berdua teringat, bahwa apa yang dialami Regina itu juga dulu dialami oleh Oma Lenny, semasa Regina remaja. Keluhan-keluhan ibunya itu juga sama terhadap Regina. Apa yang mengubah hubungan mereka adalah kasih yang dimiliki Oma Lenny sebagai ibu. Kasih yang sabar dan berusaha mengerti, dan bukannya menuntut. Dan itu memang membuat hari-hari hidup mereka sungguh berat. 

Sahabat Webklesia, nasihat yang dituliskan oleh Rasul Paulus ini mungkin terdengar ringan saja bagi kita. Tapi bagaimana kalau kita mengingat bahwa keadaan jemaat Tesalonika pada waktu itu sangat berat? Mereka mengalami penganiayaan sebagai pengikut Yesus dan hidup dalam ketakutan. Yang mereka butuhkan adalah kebebasan dan rasa aman. Namun, Paulus berkata, dalam keadaan hidup yang berat itu, yang Allah kehendaki mereka lakukan adalah: bersukacitalah! Berdoalah! dan Mengucap syukurlah! Karena dengan begitulah mereka bisa mengamalkan kasih yang diajarkan Yesus Kristus.

DOA: Ya Tuhan, berilah kami hati yang sabar dan bijaksana agar kami dapat mengasihi anggota keluarga dan orang-orang terdekat kami, seperti Engkau menerima kami serta mengasihi kami sebagaimana adanya kami. Amin. 

Scroll to Top