Professor dan Seekor Katak Percobaan

Ada seorang professor yang telah melatih seekor katak meloncat ketika bel ia bunyikan.

Hari itu, sang professor mencabut satu kaki depan katak tersebut. Lalu ia membunyikan bel. Si katak meloncat pelan. Kemudian sang professor mencabut satu lagi kaki belakangnya. Lalu ia membunyikan bel. Katak itu meloncat walau agak kesulitan.

Esoknya, professor mencabut kaki depan katak itu. Lalu membunyikan bel. Katak itu meloncat dengan lemah.

Beberapa hari kemudian ia mencabut satu kaki yang tersisa.

Kemudian sang professor membunyikan bel.

Ia mengamati bahwa si katak tidak bergerak sama sekali.

Lalu ia menarik kesimpulan, bahwa jika semua kaki seekor katak dicabuti, maka ia akan menjadi tuli!

Sahabat Webklesia, benarkah bahwa ketika kita mengalami penderitaan dan kemalangan, itu berarti Allah tidak lagi mengasihi dan melindungi kita? Dan apakah jika kita seakan tak mendapat pertolongan, itu berarti Allah tidak lagi peduli? Bila kita berpikir demikian, maka itu berarti kesimpulan yang kita ambil sama seperti kesimpulan yang diambil oleh si professor di atas.

Mungkin benar jika kita sedang mengalami penderitaan dan cobaan, kita seperti tak ada yang menolong, tetapi itu bukan karena Tuhan tuli atau tak peduli pada kita.

Kasih Tuhan tak pernah berubah. Kuasa Tuhan tak pernah pupus. Namun kitalah yang tak menjangkau pikiran-Nya. Kitalah yang tak sanggup memahami rencana-rencana-Nya yang agung.

Di dalam kehidupan ini, semua orang pasti akan mengalami penderitaan. Namun yang membedakan satu orang dengan yang lain ialah kesimpulan yang diambilnya ketika penderitaan menimpa kehidupannya.

Ketika kita menderita dan sengsara, tetaplah percaya bahwa Tuhan tetap hadir dan berperan dalam sejarah hidup kita, tetaplah percaya bahwa Allah selalu peduli dan mengasihimu.

Refleksi: Tuhan bekerja untuk kebaikan kehidupan kita bahkan dalam hal-hal kecil yang tidak kita sadari.

Scroll to Top