Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, (Ef. 3:18)
“Indah sekali di luar sana.” Ujar Sekar Ayu sembari memandang ke langit melalui jendela kaca. Mendengar itu, Ibu Rima mengikuti arah pandangan Sekar Ayu. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya sembari mendekati jendela. Ada noda-noda di kaca jendela itu. Ibu Rima menggosok-gosok noda-noda itu dengan punggung tangannya, sambil mengomel tentang pembantu rumah tangga yang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Sekar Ayu memandangi ibu mertuanya itu lalu menghela napas. “Ibu… ibu….” keluhnya pelan, “Ibu sibuk dengan noda-noda di jendela, sehingga tidak melihat keindahan di luar sana.”
Sahabat Webklesia, banyak orang yang seperti Ibu Rima: mereka tidak dapat memandang kasih Allah, karena disibukkan dengan noda-noda kecil yang ada di hadapannya. Banyak orang yang berkata bahwa Tuhan tidak memerdulikannya, karena mereka memandang kelemahan dan kekurangan dirinya, memikirkan kegagalan-kegagalan, sesak oleh penyesalan, dan tenggelam dalam dukacita.
Sahabat Webklesia, Rasul Paulus sedang dipenjarakan ketika ia menuliskan ayat di atas. Walau begitu, ia tetap dapat melihat betapa besar dan dalamnya kasih dan pemeliharaan Tuhan di dalam kehidupannya. Dapatkah kita juga melihat kasih-Nya itu?
DOA: Bapa di Surga, ajarlah kami melihat betapa lebarnya dan dan panjangnya dan tingginya kasih-Mu, walau di dalam segala kelemahan dan keterbatasan-keterbatasan kami. Amin.
