Apa yang engkau taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. (1 Kor. 15:36)
Oma Tika memejamkan matanya dengan hati pedih ketika mendengar kabar tentang kematian seorang sahabatnya. Satu per satu orang-orang yang dikasihinya telah meninggal dunia. Kita bisa mengalami sesuatu berkali-kali dan menjadi terbiasa. Tetapi berapa kalipun kita mendengar kabar tentang kematian, kita tidak akan pernah menjadi terbiasa. Setiap kematian menimbulkan dukacita. Barangkali memang kematian adalah kenyataan paling memilukan yang dialami oleh manusia. Kita mengalami kepedihan ditinggalkan orang-orang yang kita kasihi, dan sambil itu kita akan menyadari bahwa akan datang saatnya kita pun akan meninggalkan dunia ini.
Sahabat Webklesia, kenyataan tentang kematian tidak hanya mendukakan, melainkan juga menakutkan. Namun tidak demikian bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus memiliki pengharapan bahwa kehidupan ini tidak berhenti pada titik kematian. Kita memang akan mati, akan tetapi kita akan dibangkitkan sama seperti Kristus, dan bersama-Nya kita akan hidup dalam kekekalan.
Mati adalah untuk hidup. Ini membuat kita, orang-orang percaya, menghadapi kematian bukan dengan ketakutan melainkan dengan pengharapan. Dan pengharapan itu memberi kita kekuatan.
DOA: Bapa di Surga, ajarlah kami mengisi hari-hari kehidupan kami di dalam dunia dengan cinta kasih-Mu, sampai tiba waktunya Engkau memanggil kami untuk menganugerahkan kehidupan baru, kehidupan yang kekal di dalam Tuhan. Amin.
