Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:20)
Pernah saya membeli buah apel sebagai oleh-oleh. Waktu itu saya merasa sudah memilih yang paling segar dan paling ranum. Tapi sayang, ketika akan dinikmati, ternyata sebagian besar buah-buah apel itu busuk. Rupanya buah-buah apel itu dari luar saja kelihatan mulus dan segar. Di dalamnya, ternyata ada yang sudah berwarna kecokelatan, bahkan ada yang berulat.
Buah-buah apel ini mengingatkan saya akan keadaan orang-orang yang terkadang bagian-bagian terdalam dirinya tidak seperti apa yang tampak di luarnya. Banyak orang yang memang menjaga penampilan luarnya agar selalu menarik, bersih, rapih, bahkan mereka menghiasai dirinya dengan segala perhiasan-perhiasan atau barang-barang yang mahal-mahal. Namun sebenarnya di bagian terdalam hatinya sesungguhnya telah remuk dan hancur, hitam kelam dan pahit. Mungkin karena masa lalu yang tertolak, karena suatu kekecewaan, ataupun pengalaman-pengalaman masa lalu yang kelam.
Apakah memang kepahitan, kekecewaan, dan segala pengalaman buruk itu adalah alasan untuk melukai hati kita? Eleanor Rosevelt berkata, tidak seorang pun yang bisa melukai hati kita jika tanpa seijin kita. Dengan kata lain, bila kita tidak mengijinkannya, maka sesungguhnya tidak ada yang bisa melukai hati kita.
Yusuf contohnya. Ia sebenarnya mempunyai cukup alasan untuk merasa terluka seumur hidupnya. Bayangkan, ia dijual oleh saudara-saudaranya sendiri sebagai budak, kemudian ia menjadi hamba di negeri asing, lalu akhirnya ia difitnah dan dipenjarakan. Tapi apakah hatinya dendam? Apakah dia membiarkan hatinya menjadi pahit dan dipenuhi kebencian? Tidak. Justru ia melihat semua itu sebagai cara Tuhan untuk memelihara kaum keluarganya dan memelihara bangsa yang besar.
Sahabat Webklesia, kita bukan apel yang bisa terluka dan membusuk di dalam diri kita. Kita bisa menjaga hati kita agar tidak terluka oleh apapun. Caranya adalah dengan belajar mengampuni dan melihat rencana Tuhan dalam setiap kejadian.
Jika Tuhan bisa membangkitkan yang mati, apakah susahnya Ia menyembuhkan luka batin kita?
Refleksi: Ketika hati terluka, ini adalah masa untuk mencari ketenangan melalui iman dan doa, agar kita dapat memandang segala yang terjadi dari sudut pandang Allah Yang Mahatinggi. Dan memahami bahwa ini adalah bagian dari rencana-Nya yang baik bagi kehidupan kita dan semesta.
