Ketika Doa Tidak Mengubah Keadaan, Tuhan Mengubah Hati

“Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: Siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi, sekarang ia sudah meninggal, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, sedangkan ia tidak akan kembali kepadaku.” (2 Samuel 12:22–23)

Ada saat-saat dalam kehidupan kita, ketika kita berdoa sungguh-sungguh, memohon, menangis, bahkan berpuasa. Kita berharap mujizat terjadi, bahwa keadaan berubah, bahwa Tuhan berbelaskasihan dan memulihkan apa yang kita sedang genggam erat. Itulah yang dilakukan Daud ketika anaknya sakit. Ia sujud di tanah, tidak mau makan, dan memohon agar Tuhan memberi kehidupan bagi anak itu.

Daud tidak salah. Ia melakukan hal yang benar: selama masih ada harapan, ia merendahkan diri dan mencari Tuhan. Ia berjuang lewat doa, sebab ia tahu belas kasihan Tuhan begitu besar. 

Tetapi setelah tujuh hari, anak itu meninggal. Dan inilah bagian yang sering sulit dipahami: Daud bangkit, mandi, mengganti pakaian, masuk ke rumah Tuhan dan beribadah, lalu makan seperti biasa.

Mengapa Daud bisa bangkit begitu cepat? Apakah ia tidak sedih? Apakah ia berhenti mengasihi anak itu? Tentu tidak. Daud bangkit bukan karena hatinya tidak hancur, tetapi karena ia menerima jawaban Tuhan.

Ia berkata: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: Siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi, sekarang ia sudah meninggal, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, sedangkan ia tidak akan kembali kepadaku.” (2 Samuel 12:22–23).

Di sini Daud mengajarkan tiga sikap iman yang sangat dalam:

  1. Selama masih ada harapan, berdoalah sepenuh hati

Daud berdoa tanpa berhenti. Ia tahu Tuhan bisa melakukan apa pun. Kita pun dipanggil untuk melakukan bagian kita: berdoa, berjuang, memohon, dan tetap berharap. Doa adalah wujud kasih dan iman kita.

  1. Ketika Tuhan menjawab berbeda dari harapan kita, belajarlah menerima

Ada doa yang Tuhan jawab dengan pemulihan; Ada doa yang Tuhan jawab dengan kekuatan untuk melepaskan. Jawaban Tuhan tidak selalu mengubah keadaan, tetapi selalu mengubah hati orang yang percaya kepada-Nya.

  1. Bangkit bukan berarti tidak sedih, tetapi memilih percaya

Daud bangkit, bukan karena ia kuat, tetapi karena ia tahu hidup harus diteruskan. Kesedihan adalah bagian dari perjalanan iman, tetapi kita tidak boleh tinggal di sana selamanya. Ada banyak hal yang masih harus dikerjakan, dan Tuhan masih menyertai langkah berikutnya.

Ketika doa kita tidak mengubah keadaan, terkadang Tuhan mengubah hati. 

Mungkin ada doa-doa yang tidak dijawab sesuai harapan kita. Mungkin ada hal yang kita perjuangkan tapi berakhir berbeda. Melalui Daud, kita belajar bahwa iman bukan hanya terlihat saat menunggu jawaban, tetapi juga saat menerima jawaban itu.

Refleksi: Tuhan yang memelukmu dalam tangismu, adalah Tuhan yang sama yang menuntunmu untuk bangkit dan melanjutkan hidup. Sebab kasih-Nya tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika kita tidak mengerti jalannya.

Scroll to Top