melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia. (Filipi 2:7)
Setelah dua puluh tahun berlalu, Mela masih merasakan hal yang sama kalau datang ke rumah bibinya. Bibinya itu sangat kaya. Rumahnya besar, ruang tamunya mewah. Dulu, semasa kecil, kalau Mela dan ibunya datang, bibinya akan tampak tegang sekali. Ia akan mengawasi semua barang keramiknya yang mahal-mahal itu. Mela bergerak sedikit saja, bibinya sudah mendelik tajam. Mela dapat merasakan bahwa kehadirannya dilihat bibinya seperti suatu gangguan. Sekarang bibinya tampak lebih santai, mungkin karena Mela pun sudah bukan anak kecil lagi. Tetapi Mela bisa merasakan, walau mereka duduk bersama, mereka serasa jauh. Tampak sekali bibinya menempatkan dirinya lebih tinggi dan lebih istimewa, seperti ada tembok pemisah di antara mereka, walau itu tak tampak.
Sahabat Webklesia, begitulah sifat banyak orang. Banyak orang terkadang menciptakan tembok-tembok yang membatasi dirinya dengan sesamanya. Bahkan antara saudara yang kaya dan saudara yang miskin seringkali seperti ada tembok pemisah yang tak tampak. Yang merasa lebih kaya dan berkuasa akan merasa berbeda, lebih tinggi, dan lebih istimewa.
Namun, tidak demikian dengan Yesus Kristus. Yesus yang mulia, datang justru dengan mengambil posisi seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, sama seperti kita. Semua karena kasih-Nya. Karena kasih-Nya itu, Dia meruntuhkan tembok-tembok pembatas.
Dan Dia memanggil kita juga untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain. Dia memanggil kita untuk juga mengasihi dengan tanpa batasan, yakni tidak memandang diri kita lebih tinggi dan lebih istimewa daripada yang lain.
DOA: Ya Tuhan, runtuhkanlah tembok-tembok yang menjadi pembatas di antara kami. Dan jadikanlah kami perantara-Mu untuk melayani mereka yang tersingkir dan terasing dari komunitas kami. Amin.
