Kata Raja, “Potonglah anak yang hidup itu menjadi dua. Berikanlah setengah kepada yang satu dan setengah lagi kepada yang lain.” (1 Raja-raja 3:25)
Ada dua orang perempuan datang kepada raja dengan satu masalah: mereka masing-masing memiliki seorang bayi, tetapi salah satunya mati tertindih pada malam hari. Sekarang, kedua perempuan itu mengaku sebagai ibu atas bayi yang hidup.
Tidak ada saksi, tidak ada bukti, dan keduanya sama-sama memberikan cerita yang meyakinkan.
Secara manusia, sulit sekali mengetahui siapa yang benar. Tetapi Salomo tidak hanya mengandalkan kecerdasan; ia mengandalkan hikmat dari Allah. Kisah Salomo dan dua perempuan itu adalah salah satu contoh paling kuat tentang bagaimana hikmat Tuhan bekerja menerangi logika manusia.
Ketika Salomo memerintahkan agar anak itu dibelah menjadi dua, ia tidak berniat membunuh bayi itu. Ia sedang menyentuh inti persoalan, bahwa kebenaran itu terungkap di dalam kasih sejati. Dan kasih artinya tidak pernah sanggup melihat orang yang dikasihi disakiti.
Reaksi kedua perempuan itu langsung mengungkapkan siapa ibu yang sesungguhnya. Tentu saja, perempuan yang merelakan anak itu tetap hidup, walau tidak dimilikinya, itulah ibu yang sesungguhnya.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat mata manusia – Ia melihat hati. Dalam hidup yang penuh kebingungan dan suara-suara yang bertentangan, kita membutuhkan hikmat Tuhan untuk menilai dengan benar, memilih dengan bijaksana, dan bertindak dengan kasih.
Mintalah hikmat kepada Tuhan setiap hari. Hikmat-Nya tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga memimpin kita pada kebenaran dan damai sejahtera.
Doa: Tuhan, berilah kami hikmat, seperti yang Engkau kepada Salomo. Tolonglah kami agar mampu melihat dengan terang-Mu ketika kami bingung, dan menilai segala sesuatu dengan kasih. Pimpinlah langkah-langkah kami dengan hikmat-Mu setiap hari. Amin.
