Doa Syafaat Arvi

Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia. (2 Korintus 8:21)

Waktu itu kelas katekisasi kami sedang membahas tentang ‘Doa Bapa kami’. Kami sudah mengurai unsur-unsur yang terkandung di dalam doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus itu, dan saatnya mempraktikkannya dalam bentuk berdoa syafaat. Masing-masing peserta katekisasi mendapat satu topik untuk didoakan. Semua melaksanakan tugasnya, namun macet ketika giliran Arvi. Ia mengaku tidak tahu berdoa. Katanya, ia tidak tahu akan mengatakan apa. Bagiannya adalah mendoakan bangsa dan negara. 

Saya memutuskan bahwa kami semua akan terus menunggu sampai Arvi melaksanakan tugasnya. Setelah beberapa menit kami menunggu, akhirnya Arvi pun memulai. Dia mengucapkan doa tentang kasus-kasus yang cukup pelik yang sedang marak dibicarakan di media massa saat itu. Juga tentang bagaimana Presiden dan para aparat pemerintahan seharusnya bersikap dalam persoalan-persoalan tersebut. Lalu ia berdoa untuk partai-partai politik, dan untuk setiap anggota masyarakat. Ia juga berdoa untuk kawan-kawannya serta dirinya sendiri, agar mereka semua bisa menjadi warga negara yang baik, agar mereka menjadi anak-anak terang, sebab negara dan bangsa membutuhkannya. Saya terkejut karena pengetahuan politiknya sangat bagus untuk ukuran seorang remaja seumur Arvi. 

Hari itu, walaupun cukup lama kami menunggu Arvi melaksanakan tugasnya, namun kami belajar tentang satu hal, yakni bahwa dengan berdoa kita terdorong untuk memikirkan tentang apa-apa yang baik, dan apa-apa yang diperlukan supaya keadaan menjadi lebih baik. 

Dari memikirkan apa yang baik di hadapan Tuhan, kita memikirkan apa yang baik di hadapan manusia. 

Refleksi: dengan berdoa, kita mengasah kepekaan hati terhadap persoalan-persoalan kehidupan di sekitar kita. 

Scroll to Top