Kehidupan Orang Kristen di Luar Gereja

Seekor nyamuk kurus bertanya kepada sahabatnya, si nyamuk gemuk, “apa sih rahasianya sehingga kamu bisa sukses menghisap darah manusia hingga badanmu gemuk begitu?”

“Oh, rahasianya adalah karena aku selalu menghisap darah orang Kristen.” Jawab si nyamuk gemuk.

“Oh, begitu?” seru si nyamuk kurus. 

Sayang, belum sempat ia bertanya lebih lanjut, si gemuk sudah terbang. Tinggallah si nyamuk kurus bertanya-tanya dalam hati, “Hem…, apakah karena katanya orang Kristen itu diberkati maka darahnya pun membuat kita terberkati?” 

Maka hari Minggu esoknya ia pun pergi ke gereja. Tapi apa yang terjadi? Di sana ia harus berkelit ke sana ke mari. Sebab orang-orang yang ia dekati selalu siap menepuknya. Sedikit saja ia tak sigap, maka tentu sudah hancur tubuhnya di telapak tangan orang-orang itu. Untunglah ia berhasil selamat.

Kebetulan dalam perjalanan pulang, si nyamuk kurus berpapasan dengan nyamuk yang gemuk itu. Ia pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya. 

“Oh, sori sobat,” Seru si nyamuk gemuk dengan nada menyesal, “aku lupa memberitahumu. Jangan pergi ke gereja, tetapi datanglah ke rumah-rumah mereka.” 

Maka ketika malam tiba, si nyamuk kurus pun pergi ke rumah-rumah orang Kristen. Benar saja. Di sana ia melihat orang-orang yang di gereja tadi menepuknya dengan semangat, ternyata tidak se-bersemangat di gereja. Di rumah, mereka hanya duduk-duduk menonton tv dan bermalas-malasan. Bahkan mengusir nyamuk pun mereka tak peduli.

Sahabat Webklesia, pelajaran moral dari cerita ini ialah bahwa betapa orang Kristen kadang hanya bersemangat dan kelihatan rohani di dalam gereja, tetapi di luar gereja, atau di dalam rumah mereka sendiri, hidupnya jauh berbeda. Seolah-olah ajaran-ajaran Kristus tentang kasih, tentang kehidupan kudus, tentang hidup yang menjadi berkat – hanya berlaku di dalam gereja; sedangkan di dalam rumah, bagi mereka adalah wilayah pribadi yang mereka boleh berbuat apa saja semaunya. 

Orang lain mungkin tak perduli apa yang kita lakukan bila kita tak dilihatnya, tetapi ingatlah: Allah peduli dan Dia selalu mengawasi kita, anak-anak-Nya di mana pun kita berada.

Refleksi: Jadilah berkat sejak di dalam hati, bukan hanya agar terlihat oleh mata manusia.

Scroll to Top