Bagai Buluh yang Terkulai

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, dengan setia ia akan menyatakan hukum.  (TB2 Yesaya 42:3)

Saya pernah menghadiri peneguhan seorang teman menjadi pendeta. Ia melayani di salah satu jemaat di Jakarta. Peneguhan itu sangat berkesan dan mengharukan bagi saya. Pasalnya, teman saya itu, pada waktu itu sudah sekitar empat tahun lumpuh. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas, yang menyebabkan tubuhnya, dari pinggang ke bawah, sudah tidak berfungsi. Akibatnya, kedua kakinya mengecil dan seperti batang yang layu.

Menyedihkan sekali ketika saya pertama kali bertemu dengan dia sejak kelumpuhannya itu. Dia yang dulunya gagah dan bertubuh atletis dan pemain volly andalan kampus kami, kini hanya bisa duduk di kursi roda. Akan tetapi, ternyata tak sedikitpun semangat pelayanannya pudar. Seperti katanya sendiri, mengutip Yesaya 42:3 “Saya ini bagaikan buluh yang terkulai, tetapi takkan diputuskan-Nya”.

Betapa cacat tubuh, kemalangan dan penderitaan tidak bisa menghalaukan pengabdian seorang hamba Tuhan yang setia untuk memberitakan firman Tuhan di tengah-tengah jemaat-Nya.

Sahabat Webklesia, bagaimanakah dengan kita? Barangkali Anda juga mengalami kekurangan fisik, atau barangkali Anda mengalami suatu kemalangan atau penderitaan, atau… mungkin kekurangan materi? Apakah hal itu membuat Anda terpuruk dan menjauhkan diri dari pelayanan, dan persekutuanm atau bahkan dari kasih Tuhan?

Dalam kehidupan ini, terkadang kita tidak dapat melihat kasih Tuhan. Bagaikan langit, yang kata orang, berwarna biru, tetapi kita tidak dapat melihatnya. Entah karena tertutup awan, atau diselimuti kabut, atau sedang malam saja.

Namun, kasih Tuhan tidak bergantung pada perasaan kita, pemahaman kita, atau kondisi kita hari ini. Kasih-Nya tetap indah. Rencana-Nya tetap untuk mendatangkan damai sejahtera.

Refleksi: Langit takkan kurang biru, walau kau tak dapat melihatnya; Kasih Tuhan kita takkan kurang indah, walau kau tak dapat memahaminya. 

Scroll to Top