Ada kisah tentang seorang Penyair, seorang Pelukis dan seorang Pengkritik. Ketiganya sedang dalam perjalanan panjang melintasi gurun pasir. Suatu malam, untuk mengusir sepi, mereka sepakat untuk menggambarkan unta yang menemani perjalanan mereka. Hanya dalam sepuluh menit, sang penyair sudah melantunkan bait-bait puisi yang indah tentang unta itu. Sang pelukis, dengan beberapa usapan kuas, telah menghasilkan lukisan yang indah. Kemudian tiba giliran si pengkritik. Dia masuk ke dalam tenda lama sekali. Dua jam kemudian baru dia keluar. “Saya sudah mencoba melakukannya dengan cepat, tapi saya menemukan begitu banyak kekurangan pada unta itu.” ucapnya di sela-sela omelan kedua rekannya karena dibuat menunggu begitu lama. “Unta itu tidak bisa berlari, tidak nyaman diduduki, dan sangat jelek.” Kemudian dia menyerahkan setumpuk catatan dengan judul: Unta yang Sempurna, atau Bagaimana Seharusnya Tuhan Menciptakan Unta.
Sahabat Webklesia, kisah ini mengingatkan kita tentang orang-orang yang hanya bisa melihat kekurangan-kekurangan pada apa pun. Dan ini yang seringkali dikeluhkan oleh orang-orang muda terhadap orang-orang tua.
Keluhan yang banyak terlontar tentang para orang tua adalah betapa sulitnya membuat mereka bahagia. Kita, orang tua, selalu saja menemukan hal-hal yang salah pada orang-orang muda.
Tidak dapatkah kita menerima mereka apa adanya saja, dan mengasihi mereka sebagaimana Tuhan mengasihi kita?
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri. Akulah TUHAN.(Imamat 19:18)
DOA: Bapa di Sorga, berilah kami kerendahan hati dan kelemahlembutan untuk menerima orang-orang di sekitar kami dengan penuh kasih. Sama seperti Engkau menerima kami sebagaimana apa adanya kami. Amin.
