Menyiapkan khotbah bukanlah tugas yang ringan. Khotbah adalah penyampaian Firman Tuhan yang bersumber dari Alkitab, dengan tujuan menyatakan kehendak Allah, membangun iman, menegur, menghibur, dan menuntun jemaat untuk hidup sesuai dengan kebenaran firman tersebut.
Namun, berkhotbah bukan sekedar menyampaikan informasi rohani, melainkan sebuah pelayanan rohani yang dilakukan dengan doa, perenungan, dan ketergantungan pada pimpinan Roh Kudus.
Oleh karena itu, khotbah tidak bisa dilepaskan dari pengkotbahnya. Banyak pengkhotbah yang juga adalah para pemimpin satu atau lebih jemaat. Yang tidak saja memikul tanggung jawab mempersiapkan pelayanan Firman Tuhan setiap minggu, tetapi juga setiap hari, bahkan setiap saat.
Bagi beberapa pelayan Tuhan, proses persiapan khotbah seringkali terasa menantang dan menyita hampir seluruh waktu dan pikirannya. Sementara tugas dan tanggung jawab lainnya juga membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit.
Di era digital saat ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hadir sebagai alat bantu yang semakin populer, termasuk dalam dunia penulisan dan pendidikan.
Pertanyaannya, apakah AI bisa digunakan untuk membantu menyiapkan khotbah? Jawabannya: bisa, asalkan digunakan dengan bijaksana. AI bukan pengganti hikmat Allah, tidak berarti kita tidak lagi berdoa dan mengabaikan pentingnya perenungan Firman Tuhan secara pribadi, atau meniadakan pimpinan Roh Kudus. AI adalah alat bantu untuk menolong proses persiapan.
Artikel ini akan membahas tips cara membuat khotbah pakai AI secara bertanggung jawab, tetap Alkitabiah, dan relevan bagi jemaat.
AI adalah teknologi yang dirancang untuk memproses informasi, mengenali pola, dan menghasilkan teks berdasarkan data yang telah dipelajari.
Teknologi AI ini bisa kita pakai melalui aplikasi seperti gemini google, ChatGPT, DeepSeek, dll. Pada umumnya, saya menganjurkan gemini, sebab ini adalah aplikasi yang menurut saya paling gampang dijangkau, karena pada umumnya orang sudah bisa mengakses google. Dan lagipula ini gratis.
Dalam konteks penulisan, AI dapat kita manfaatkan untuk membantu kita:
AI bekerja berdasarkan perintah atau prompt yang diberikan pengguna. Semakin jelas dan spesifik perintahnya, semakin baik hasil yang dihasilkan.
Jika digunakan dengan tepat, AI dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain:
AI dapat berperan sebagai “asisten” yang membantu tahap awal persiapan, bukan sebagai pengkhotbah utama.
Karena, penting disadari bahwa AI tidak memiliki iman, pengalaman rohani, atau pemahaman konteks lokal jemaat, sehingga hasilnya tetap perlu disaring dan disesuaikan.
Sebelum menggunakan AI untuk mempersiapkan khotbah, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami dan hendaknya selalu disadari, yakni:
Karena itu, setiap hasil dari AI harus diperiksa ulang, baik secara teologis maupun kontekstual.
Unsur-unsur di atas perlu kita pahami terlebih dahulu sebelum kita melangkah pada topik mempersiapkan diri pakai AI. Sebab jangan sampai kita menganggap bahwa menggunakan AI berarti kita akan menggantikan kuasa firman dan Roh Kudus.
Mempersiapkan khotbah pakai AI juga bukan berarti kita mengabaikan teori Homiletika yang telah kita pelajari di bangku kuliah.
Perhatikanlah langkah-langkah dalam membuat khotbah berikut ini.
Membuat khotbah pakai AI sebenarnya sama saja dengan membuat khotbah dengan cara tanpa AI, yakni:
Bedanya adalah pada langkah ketiga.
Memahami firman Tuhan dan merenungkannya secara pribadi di dalam hati adalah satu hal. Mengungkapkan hasil perenungan itu dalam kata-kata, dan menyusunnya sebagai pesan yang jelas dan terstruktur adalah hal yang lain. Di sinilah banyak dari kita yang membutuhkan bantuan yang cepat dan terpola.
Tentang langkah pertama dan kedua, itu adalah tanggung jawab pribadi antara pengkhotbah dan Tuhan. Langkah keempat dan kelima adalah menyangkut latihan, kepribadian, dan style si pengkhotbah sendiri.
Di sini kita akan hanya membahas tentang langkah ketiga. Untuk mengerjakan langkah ketiga, yakni mencatat / menuliskan pokok-pokok khotbah bisa dilakukan secara konvensional tanpa alat bantu AI atau dengan bantuan AI, sesuai pilihan dan kemampuan masing-masing.
Apabila kita ingin memanfaatkan bantuan AI, berikut adalah langkah-langkahnya.
Ketika kita mendapat tugas untuk berkhotbah, pada umumnya ada tiga macam situasi, yakni
Situasi di atas menentukan langkah-langkah kita selanjutnya, khususnya dalam merancang prompt AI.
Apakah prompt itu? Prompt adalah perintah yang kita berikan untuk diolah oleh AI. Apa yang dihasilkan oleh AI tergantung pada prompt yang kita berikan.
Ini bagaikan resep, masakan, dan chef. Prompt itu bagaikan resep. Masakan yang dihasilkan, tergantung pada resep itu dan kemampuan chef yang mengerjakannya. Resep rendang menghasilkan rendang, resep cake menghasilkan cake.
Masakan apa yang dihasilkan oleh AI, bentuknya dan enak-tidaknya tergantung pada chef yang meracik bumbu dan memasak masakan itu.
Meminta bantuan AI dengan prompt tidak hanya dengan perintah: buatkan khotbah. Tidak begitu.
Prompt yang baik itu ada polanya. Pada umumnya, setiap prompt ada 5 unsur di dalamnya, yakni TKRBP
Percakapan kita dengan satu Prompt akan bisa berlanjut dan dapat kita jadikan lawan diskusi untuk menantang, memeriksa kembali dan bahkan menguji hasil dari AI itu dan pemahaman kita sendiri.
Setelah menerima hasil dari AI:
Contoh 1: mempersiapkan khotbah pakai AI untuk tiga bacaan Alkitab
Bahan ini adalah contoh yang saya ambil dari ibadah hari Minggu 14 Desember 2025 di suatu jemaat Gereja Toraja dengan Tema: Berbahagia orang yang sabar menantikan Tuhan. Bacaan Alkitab: Yesaya 35:1-10, Yakobus 5:7-10, Matius 11:2-11. (Tema dan bahan-bahan bacaan ini sudah ditentukan dari sinode).
Buatkan khotbah dengan tema “berbahagia orang yang sabar menantikan Tuhan”.
Khotbah ini untuk ibadah umum hari Minggu yang dihadiri oleh jemaat pria dan wanita, usia remaja hingga dewasa.
Jemaat ini berada di wilayah semi perkotaan dengan tingkat pendidikan rata-rata sekolah menengah ke atas.
Khotbah ini berdasarkan Bacaan Alkitab: Yesaya 35:1-10, Yakobus 5:7-10, Matius 11:2-11. Rangkumkan bahan bacaan ini dalam tiga topik berdasarkan tema di atas.
Mulai khotbah dengan pendahuluan berupa cerita ilustrasi yang sesuai, kemudian pembahasan tiga topik tentang kebahagiaan orang yang menantikan Tuhan. Apa alasannya, tujuannya apa dan bagaimana caranya. Kemudian khotbah diakhiri dengan pesan dari firman Tuhan berupa satu kalimat yang menarik dan gampang diingat.
Buatlah khotbah itu dalam bahasa sehari-hari yang ringan dan gampang dipahami untuk durasi 15-20 menit.
Baik 🙏 Berikut naskah khotbah lengkap sesuai permintaan: bahasa sehari-hari, alurnya jelas, durasi kira-kira 15–20 menit, dan setia pada Yesaya 35:1–10, Yakobus 5:7–10, Matius 11:2–11.
Berbahagia Orang yang Sabar Menantikan Tuhan
Pendahuluan – Ilustrasi
Saudara-saudari,
pernahkah kita menunggu sesuatu yang sangat kita harapkan, tapi waktunya terasa lama sekali? Misalnya: menunggu hasil kelulusan, menunggu panggilan kerja, menunggu kesembuhan, atau menunggu janji seseorang ditepati. Di zaman sekarang, kita hidup di dunia yang serba cepat. Pesan harus dibalas cepat, makanan bisa datang dalam hitungan menit, informasi tinggal klik. Karena itu, menunggu sering terasa menyebalkan.
Masalahnya, dalam kehidupan iman, Tuhan sering kali tidak bekerja secepat keinginan kita. Doa sudah dipanjatkan, air mata sudah jatuh, usaha sudah dilakukan—tetapi jawabannya belum terlihat. Di titik inilah muncul pertanyaan: “Tuhan, sampai kapan?”
Firman Tuhan hari ini justru berkata sesuatu yang tidak biasa:
“Berbahagialah orang yang sabar menantikan Tuhan.”
Bagaimana mungkin menunggu—yang rasanya berat—disebut sebagai kebahagiaan?
Mari kita melihatnya bersama-sama melalui tiga bacaan Alkitab hari ini.
Topik 1
Mengapa Orang yang Menantikan Tuhan Disebut Berbahagia?
Dalam Yesaya 35:1–10, bangsa Israel berada dalam keadaan sulit. Mereka mengalami pembuangan, penderitaan, dan masa depan yang terasa gelap. Namun Tuhan menyampaikan janji yang luar biasa:
padang gurun akan berbunga, yang lemah akan dikuatkan, yang buta akan melihat, dan yang lumpuh akan melompat.
Artinya, Tuhan bekerja, meskipun belum terlihat saat ini.
Kebahagiaan orang yang menantikan Tuhan bukan karena situasinya sudah berubah, tetapi karena ia percaya bahwa Tuhan setia pada janji-Nya. Orang yang menantikan Tuhan hidup dengan pengharapan, bukan keputusasaan.
Menunggu Tuhan bukan tanda iman lemah. Justru sebaliknya:
👉 orang yang menunggu Tuhan percaya bahwa Tuhan lebih tahu waktu yang tepat.
Itulah sebabnya ia berbahagia—karena hatinya berlabuh pada janji Tuhan, bukan pada keadaan.
Topik 2
Untuk Apa Tuhan Mengajar Kita Menunggu dengan Sabar?
Dalam Yakobus 5:7–10, kita diajak belajar dari petani. Seorang petani menabur benih, lalu menunggu hujan awal dan hujan akhir. Ia tidak bisa memaksa tanaman tumbuh lebih cepat. Yang bisa ia lakukan adalah setia menunggu dan merawat.
Firman Tuhan mengingatkan:
“Bersabarlah sampai kedatangan Tuhan.”
Menunggu bukan waktu yang sia-sia. Tuhan memakai masa menunggu untuk:
Sering kali kita ingin jawaban cepat, tapi Tuhan lebih tertarik membentuk hati yang kuat. Kalau Tuhan selalu langsung menjawab doa kita, mungkin iman kita tidak pernah bertumbuh.
Jadi tujuan Tuhan bukan hanya mengubah keadaan, tetapi mengubah kita melalui proses menunggu itu.
Topik 3
Bagaimana Cara Menantikan Tuhan dengan Sabar dan Benar?
Bacaan dari Matius 11:2–11 sangat manusiawi. Yohanes Pembaptis, seorang nabi besar, sedang di penjara. Ia mulai bertanya:
“Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan yang lain?”
Yohanes menunggu—dan ia bingung, bahkan ragu.
Yesus tidak memarahinya. Yesus justru menunjuk pada karya Tuhan yang sedang berlangsung: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, Injil diberitakan kepada orang miskin.
Ini mengajarkan kita cara menantikan Tuhan:
Penutup – Pesan Firman Tuhan
Saudara-saudari,
menantikan Tuhan memang tidak mudah. Ada air mata, ada tanya, ada rasa lelah. Tetapi firman Tuhan menegaskan bahwa orang yang sabar menantikan Tuhan tidak akan dikecewakan.
Biarlah kita mengingat satu kalimat ini:
“Menunggu Tuhan mungkin terasa lama, tetapi tidak pernah sia-sia.”
Kiranya firman ini meneguhkan kita—remaja, dewasa, pria dan wanita—untuk tetap setia, tetap berharap, dan tetap percaya, sampai Tuhan menyatakan karya-Nya pada waktu yang terbaik. Amin.
Kalau kamu mau, aku bisa:
Tinggal bilang ya 🙏
Contoh 2: ketika tema dan bacaan Alkitab bebas dipilih sendiri
Katakan saja Anda mendapat tugas untuk berkhotbah di persekutuan wanita di kantor di mana Anda bekerja. Katakanlah Anda bekerja di kantor pemerintahan daerah. Pendeta yang ditunjuk mendadak berhalangan dan Anda diminta menggantikan hanya dua hari sebelumnya. Tidak ada tema dan tidak ada bahan bacaan Alkitab yang diberikan. Artinya Anda bebas untuk memilih tema dan bahan bacaan Alkitab untuk khotbah Anda.
Untuk kasus seperti ini, jangan langsung mengetikkan prompt: “Buatkan khotbah untuk persekutuan wanita di kantor pemerintahan daerah.”
Apabila tidak ada tema dan bahan bacaan Alkitab, yang kita lakukan adalah 3 langkah.
Berikan 10 tema yang ringan dan menarik untuk ibadah persekutuan wanita yang bekerja di kantor pemerintahan daerah sertakan juga dengan referensi ayat alkitab yang cocok.
Berikut adalah hasil awal dari ChatGPT
Siap 😊 Berikut 10 tema yang ringan, relevan, dan membangun untuk ibadah persekutuan wanita yang bekerja di kantor pemerintahan daerah, lengkap dengan referensi ayat Alkitab. Tema-tema ini dekat dengan dunia kerja birokrasi, ritme kantor, dan pergumulan iman sehari-hari.
1. Setia di Tengah Rutinitas
Ayat: Kolose 3:23
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…”
➡️ Cocok untuk meneguhkan makna pekerjaan administratif yang sering terasa monoton.
2. Bekerja dengan Integritas di Dunia yang Tidak Selalu Ideal
Ayat: Amsal 11:3
➡️ Membahas kejujuran, sikap benar, dan komitmen iman di lingkungan kerja pemerintahan.
3. Tuhan Hadir di Balik Meja Kerja
Ayat: Mazmur 127:1
➡️ Mengingatkan bahwa Tuhan peduli pada pekerjaan sehari-hari, bukan hanya urusan rohani.
4. Mengelola Stres dan Tekanan Kerja Bersama Tuhan
Ayat: Matius 11:28
➡️ Relevan untuk wanita yang menghadapi target, deadline, dan tuntutan pekerjaan.
5. Hikmat Tuhan dalam Mengambil Keputusan
Ayat: Yakobus 1:5
➡️ Sangat cocok untuk konteks pengambilan keputusan administratif dan pelayanan publik.
6. Menjadi Terang Lewat Sikap dan Perkataan
Ayat: Matius 5:16
➡️ Fokus pada kesaksian hidup, bukan hanya kata-kata, di lingkungan kantor.
7. Bekerja Tanpa Kehilangan Sukacita
Ayat: Nehemia 8:10b
➡️ Menguatkan hati agar tidak pahit, lelah, atau kehilangan semangat dalam pekerjaan.
8. Perempuan yang Dipercaya Tuhan dengan Tanggung Jawab
Ayat: Lukas 16:10
➡️ Menegaskan bahwa kesetiaan dalam hal kecil sangat berarti di mata Tuhan.
9. Damai Sejahtera di Tengah Kesibukan
Ayat: Filipi 4:6–7
➡️ Membahas keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan kehidupan rohani.
10. Bekerja sebagai Bentuk Ibadah
Ayat: Roma 12:1
➡️ Menolong jemaat melihat pekerjaan kantor sebagai panggilan, bukan sekadar kewajiban.
Catatan Penggunaan Tema
Kalau kamu mau, aku bisa:
Tinggal bilang mau yang mana 🙏
Katakanlah setelah Anda membaca hasil di atas, mempertimbangkan audiens dan kemampuan diri dan setelah memeriksa kebenaran ayat referensinya, Anda memilih topik nomor 9. Di situ disebutkan Topik “Damai Sejahtera di Tengah Kesibukan.” Dengan ayat referensi Filip 4:6-7.
Setelah memeriksa ayat itu dan membaca konteks ayat dan perikop, Anda memutuskan bahwa ayat 7 lebih mengena dan Anda akan mengambil keseluruhan perikop itu sebagai bahan bacaan.
Maka langkah selanjutnya adalah Anda memahami pesan inti dari perikop itu. Memahami dan merenungkannya terlebih dahulu.
Bila memang Anda memerlukan bantuan AI, buatkan prompt dengan pola TKRBP.
Berikut contohnya (Lihat Contoh Prompt 3)
Buatkan khotbah dengan tema “Damai Sejahtera di Tengah Kesibukan” yang akan dibawakan dalam ibadah persekutuan wanita di kantor pemerintahan daerah.
Kaum wanita di kantor ini umumnya juga adalah seorang ibu rumah tangga dan sangat aktif dalam persekutuan.
Khotbah ini berdasarkan pada surat Filip 4:2-9 dengan nas ayat 7. Mulai khotbah dengan pendahuluan berupa cerita ilustrasi yang sesuai, kemudian pembahasan tiga topik tentang damai sejahtera. Apa pengertian damai sejahtera, mengapa itu penting dan apa yang perlu dilakukan untuk mendapatkannya. Kemudian khotbah diakhiri dengan pesan dari firman Tuhan berupa satu paragraf refleksi untuk kaum wanita yang seringkali lelah dengan perannya sebagai seorang ibu rumah tangga, pegawai dan anggota persekutuan.
Buatlah khotbah itu dalam bahasa sehar-hari yang ringan dan gampang dipahami untuk durasi 15-20 menit.
Baik 🙏 Berikut naskah khotbah lengkap sesuai permintaan:
bahasa sehari-hari, ringan, kontekstual untuk wanita pekerja di kantor pemerintahan daerah yang juga ibu rumah tangga dan aktif bersekutu, dengan durasi sekitar 15–20 menit.
Damai Sejahtera di Tengah Kesibukan
(Filipi 4:2–9, ayat kunci: Filipi 4:7)
Pendahuluan – Ilustrasi
Ibu-ibu yang terkasih,
coba kita bayangkan satu pagi yang sangat akrab dengan kehidupan kita.
Jam belum menunjukkan pukul enam, tapi alarm sudah berbunyi. Kita bangun, menyiapkan sarapan, membangunkan anak-anak, memastikan seragam rapi, lalu bersiap berangkat ke kantor. Di kantor, pekerjaan menunggu—rapat, laporan, pelayanan masyarakat. Pulang sore, urusan rumah kembali menanti. Malam hari, masih ada kegiatan persekutuan atau pelayanan. Lalu saat akhirnya berbaring, badan lelah, tapi pikiran justru penuh.
Secara fisik kita diam, tapi hati kita tidak pernah benar-benar istirahat.
Di tengah kesibukan seperti inilah firman Tuhan hari ini berbicara tentang sesuatu yang sangat kita rindukan: damai sejahtera. Bukan damai karena semua tugas selesai, tetapi damai di tengah semua kesibukan itu.
Topik 1
Apa Itu Damai Sejahtera Menurut Firman Tuhan?
Dalam Filipi 4:7, Rasul Paulus berkata:
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Damai sejahtera menurut firman Tuhan bukan berarti:
Damai sejahtera adalah ketenangan batin yang Tuhan berikan, bahkan ketika situasi di luar belum berubah. Paulus menulis surat ini bukan dari kondisi nyaman, tetapi dari penjara. Artinya, damai sejahtera bukan tergantung situasi, tetapi hubungan dengan Tuhan.
Sebagai wanita yang menjalani banyak peran, kita sering berpikir damai akan datang nanti—nanti kalau pekerjaan beres, anak-anak besar, atau waktu lebih longgar. Firman Tuhan justru berkata: damai itu bisa hadir sekarang, di tengah kesibukan.
Topik 2
Mengapa Damai Sejahtera Itu Sangat Penting?
Dalam Filipi 4:6, Paulus berkata:
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga…”
Kenyataannya, kekhawatiran adalah “teman dekat” wanita sibuk:
Tanpa damai sejahtera, kita bisa:
Damai sejahtera itu penting karena ia menjaga hati dan pikiran kita. Kalau hati tidak dijaga, kita tetap sibuk, tapi kosong. Kita tetap aktif, tapi kehilangan sukacita.
Tuhan tidak ingin kita hanya kuat menjalani peran, tetapi tenang dan utuh di dalam peran itu.
Topik 3
Apa yang Perlu Dilakukan untuk Mendapatkan Damai Sejahtera?
Firman Tuhan sangat praktis. Dalam Filipi 4:6–9, Paulus memberi langkah-langkah nyata:
1. Membawa Segala Hal kepada Tuhan dalam Doa
Bukan hanya doa panjang, tapi doa jujur.
Doa di dapur, doa di meja kerja, doa di dalam hati saat lelah.
2. Mengucap Syukur, Bukan Hanya Meminta
Mengucap syukur menolong kita melihat bahwa Tuhan sudah bekerja, meski belum sempurna.
3. Mengarahkan Pikiran kepada Hal yang Baik
Paulus berkata: pikirkan yang benar, mulia, adil, dan patut dipuji.
Artinya, jangan biarkan pikiran terus dikuasai rasa bersalah, takut, dan tuntutan.
4. Melakukan Apa yang Kita Tahu Benar
Hidup yang selaras dengan firman Tuhan membuka ruang bagi damai sejahtera-Nya.
Damai sejahtera bukan datang karena kita menyelesaikan semua peran dengan sempurna, tetapi karena kita menyerahkan peran-peran itu kepada Tuhan.
Penutup – Refleksi untuk Kaum Wanita
Ibu-ibu yang terkasih,
Tuhan tahu betul betapa lelahnya menjadi seorang wanita yang menjalani banyak peran. Tuhan tahu lelahnya mengurus keluarga, bekerja dengan tanggung jawab, dan tetap setia dalam persekutuan. Firman hari ini mengingatkan kita bahwa damai sejahtera bukan hadiah bagi wanita yang “paling kuat”, tetapi anugerah bagi wanita yang mau datang kepada Tuhan dengan hati terbuka. Di tengah kesibukan, Tuhan tidak meminta kita melakukan lebih banyak, tetapi percaya lebih dalam. Saat kita menyerahkan kekhawatiran, pikiran, dan kelelahan kepada-Nya, damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita—dan di sanalah kita menemukan kekuatan baru untuk menjalani setiap peran dengan sukacita. Amin.
Jika kamu mau, aku bisa:
Tinggal bilang ya 🙏
Perhatikanlah pengajuan langkah lebih lanjut yang ditawarkan di bagian akhir. Kita bisa mencoba langkah-langkah tersebut atau menerima apa yang ada dan mengembangkannya secara mandiri.
Katakan saja Anda ingin mengakhiri khotbah dengan refleksi pribadi atau diskusi ringan (sebagaimana yang selama ini menjadi tradisi di persekutuan Anda itu).
Saya menuliskan di prompt selanjutnya:
“Tambahkan pertanyaan refleksi kelompok.”
Hasilnya adalah sebagai berikut:
Siap 😊 Berikut pertanyaan refleksi kelompok yang ringan, jujur, dan membumi, cocok untuk persekutuan wanita pekerja dan bisa dipakai dalam diskusi 20–30 menit setelah khotbah.
Pertanyaan Refleksi Kelompok
Tema: Damai Sejahtera di Tengah Kesibukan (Filipi 4:2–9)
1. Refleksi Pribadi
2. Menghubungkan Firman dengan Kehidupan
3. Refleksi Peran sebagai Wanita
4. Aplikasi Praktis
5. Penutup Reflektif
Tips untuk Pemimpin Kelompok
Kalau kamu mau, aku bisa:
Tinggal bilang ya 🌷
Agar khotbah yang dibantu AI tetap membangun jemaat:
Khotbah yang hidup lahir dari firman Tuhan yang dihidupi, bukan sekadar teks yang rapi.
Ketika kita menggunakan AI untuk membantu kita mempersiapkan khotbah, adalah penting untuk menghindari beberapa hal ini:
Hal ini tidak saja dapat membuat khotbah terasa kaku, dangkal, atau bahkan keliru, tetapi juga membuat pengkhotbah menjadi tumpul daya kritisnya dan tidak lagi mengandalkan pimpinan Roh Kudus dalam mempersiapkan dirinya.
Walaupun bantuan AI akan terasa seperti mendapat “asisten” pribadi yang sangat cerdas dan rohani, namun perlu diingatkan kembali bahwa dalam pelayanan, etika sangat penting. Karena itu, gunakanlah AI dengan sikap:
Teknologi seharusnya melayani panggilan, bukan menggantikannya.
Menggunakan AI dalam persiapan khotbah bukanlah hal yang salah jika dilakukan dengan bijaksana. AI dapat membantu proses teknis dan struktur, tetapi otoritas utama khotbah tetap berasal dari Firman Tuhan dan karya Roh Kudus. Dengan sikap yang benar dan bijaksana, teknologi dapat menjadi alat yang mendukung pelayanan, bukan menggeser esensinya.
Kiranya tips ini dapat membantu para pelayan Tuhan dalam melaksanakan tugas dan panggilannya dengan lebih efisien. Dan setiap pemberitaan firman Tuhan menjadi berkat bagi jemaat demi kemuliaan Nama Tuhan.